MENGENANG LAKSDA.FM.PARAPAT Ph.D

Umum | Admin
Senin, 25 Mei 2020 - 09:40:57 | 34469 kali

In Memoriam Farel Mangapul Parapat, Perwira Nasionalis yang Lugu

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Menjelang Sidang Umum MPR pada bulan Maret 1993, untuk keenam kalinya Presiden (saat itu) Soeharto dipastikan bakal terpilih.  Jumlah suara dari Golkar, Fraksi ABRI (kini TNI) dan Utusan Daerah sudah lebih dari 80 persen. Aman bagi Pak Harto.
Tetapi untuk posisi wakil presiden belum ada kepastian. Ada tiga kandidat yang menonjol pada saat itu. Pertama, Wapres Soedharmono yang tengah menjabat. Kedua, Prof. Dr. B.J. Habibie, the rising star, kala itu memiliki 35 jabatan termasuk sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Ketiga, Jenderal Try Sutrisno, yang kala itu menjabat Panglima ABRI.
Ditengarai, Presiden Soeharto condong pada  dua calon pertama. Dan kala itu, sabda Soeharto acap kali dipandang sama dengan titah dewa.
Namun, ABRI sebenarnya menginginkan sang panglima, Jenderal Try Sutrisno, yang menjadi wapres. Pada saat itu  tampaknya pilihan itu juga didukung oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dua partai oposisi di zaman Orde Baru (walaupun Orba tidak mengenal istilah partai oposisi). Sedangkan Golkar sudah bisa dipastikan mengikuti apa keinginan Soeharto, sebagai ketua dewan pembina.
 L.B. Moerdani yang menjabat menteri pertahanan saat itu kemudian memimpin sebuah rapat dengan para pembantu dekatnya untuk membicarakan bagaimana sebaiknya sikap ABRI. Pada rapat itu disimpulkan, ada dua cara untuk melambungkan nama Try untuk jadi wapres. Pertama, melaporkan dan meminta restu Presiden Soeharto, kedua, mengumumkan pencalonan Try tanpa meminta persetujuan presiden.
Menurut Laksda TNI (Pur) Farel Mangapul Parapat Ph.D dalam biografinya yang berjudul TNI dan Angkatan Laut yang Saya Banggakan (Penerbit Yayasan Marga Parapat 2003),  sebagian besar yang hadir memilih alternatif pertama. Banyak juga yang tidak memberikan pendapat. Hanya Parapat, yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Perencanaan Umum dan Penganggaran Departemen Pertahanan, memilih alternatif kedua.
Salah seorang yang hadir, yaitu Letnan Jenderal TNI Sugeng Subroto, tak bisa menahan kegusaran. Ia menuduh Parapat tidak mengerti tata krama Jawa. Namun, Parapat  kala itu  menjawab dengan lugas, “Baiklah, demi tata krama Jawa kita memilih alternatif pertama. Tetapi apabila Pak Harto menolak permintaan kita, lalu kita berbuat apa.”
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.
Di akhir rapat,  Menhankam LB Moerdani memilih alternatif kedua sebagai keputusan, yaitu ABRI akan mengumumkan pencalonan Try tanpa perlu meminta restu Pak Harto. Untuk itu, Kasospol ketika itu, Harsudiono Hartas, ditugaskan untuk melakukan operasi sosial politik.  Sedangkan Parapat ditugaskan untuk menyediakan anggarannya. Dan berkat operasi sospol tersebut, tak berapa lama kemudian PPP mencalonkan Try Sutrisno sebagai wapres. Langkah yang sama disusul oleh PDI. Barulah ABRI menyatakan hal serupa. Golkar sendiri masih menunggu petunjuk presiden.
Sejarah mencatat Try Sutrisno akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai wapres melalui Sidang Umum MPR. Sampai beberapa menit terakhir, orang masih banyak yang tidak percaya, apakah Try Sutrisno akan lolos jadi wapres mengingat Pak Harto lebih menginginkan dua calon yang lain.  Ternyata memang Try yang terpilih. Dan sebagai hadiah (sebenarnya hukuman) bagi Parapat karena telah berbicara di luar pakem,  ia menerima Surat Pemberhentian sebagai Dirjen Perencanaan Umum dan Anggaran Departemen Pertahanan dengan alasan usia sudah mencapai 60 tahun.
***
Sikap lugu dan berterus-terang adalah sikap yang dianggap menonjol pada FM Parapat, yang di kalangan koleganya dipandang sebagai Saptamargais sejati. Terlahir sebagai orang Batak di Tarutung, 2 Februari 1933,  sejak kecil ia dididik untuk berterus terang mengungkapkan apa yang dia anggap benar.
Di dunia Timur dimana simbol-simbol masih kerap lebih penting untuk mengemukakan sesuatu daripada keterus-terangan mengungkapkan sesuatu, sikap lugu sering dianggap sebagai kelemahan. “Keluguan sering dipersepsikan oleh banyak orang sebagai suatu sifat yang tidak akan membawa seseorang sukses dalam hidupnya,” demikian komentar Ir. J.H. Simanjuntak, adik kelas Parapat semasa SMA dan aktivis Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Namun, pada saat yang sama, Simanjuntak yakin keluguan yang lebih dekat kepada kejujuran baik kepada orang lain dan terutama kepada diri sendiri, mutlak perlu dan harus terus dikembangkan.
“Kalau saja para petinggi dan birokrat kita rata-rata memiliki pola pikir dan pola tindak seperti FM Parapat, rasional dan realistis, jujur dan langsung, bukan seperti yang sering kita saksikan membiarkan masalah berlarut, bahkan diserahkan kepada berjalannya waktu, pastilah negara  dan bangsa ini sudah jauh lebih maju,” tulis Simanjuntak.
Modal keterus-terangan dan sikap lugas itu, diakui oleh Parapat,  sebagian di antaranya ia peroleh dari gemblengan perwira Angkatan Laut legendaris, John Lie, ketika dirinya masih menjadi kadet. Kala itu John Lie berpangkat mayor dan menjabat sebagai kepala penerangan Angkatan Laut.
Berpesan kepadanya John Lie pada hari itu, tatkala Parapat pertama kali diterima di Angkatan Laut, begini:
“Kalau kau betul-betul ingin menjadi kadet Angkatan Laut, yang penting kau harus jujur dan bekerja keras,”  sebagaimana dituturkan Parapat dalam biografinya.
“Angkatan Laut ini milik seluruh bangsa Indonesia, seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke tanpa kecuali. Tidak membedakan anggotanya apakah itu Ambon, Batak, atau orang Jawa dan lain-lain, apakah orang Islam, orang Kristen atau orang Buddha dan lain-lain, apakah orang itu cokelat, orang kuning, hitam-putih, semua sama,” kata John Lie
Oleh ajaran John Lie tentang keterus-terangan itu pula, Parapat justru pernah nyaris berbantahan dengan John Lie. Suatu hari,  ia melapor kepada John Lie yang bertindak sebagai komandan pelayaran bahwa semua perbaikan elektronik di KRI Gajah Mada sudah selesai dan siap berlayar. Atas laporan itu, John Lie mengatakan bahwa pada pelayaran berikutnya Parapat yang kala itu berpangkat letnan muda, berlayar akan didampingi oleh Letnan Rudy Kortz, seniornya.
Mendengar hal itu, Parapat sedikit kecewa karena merasa dirinya tidak dipercaya. Oleh karena itu, ia mengutarakan kekecewaannya dengan terus terang.  “Kalau Letnan Rudy Kortz harus diikutkan berlayar untuk mendampingi saya berarti Komandan tidak menaruh kepercayaan terhadap saya sebagau Perwira Elektro KRI Gajah Mada ini, dengan demikian saya mohon agar saya diturunkan dari kapal.” Lalu ia minta izin keluar dari ruangan komandan.
Keterus terangan Parapat rupanya berkenan di hati John Lie. Pada pelayaran berikutnya, Rudy Kortz tidak pernah lagi diikutkan dan pelayaran tetap berjalan dengan baik.
***
Seusai lulus dari SMA Negeri di Balige, Sumatera Utara pada tahun 1952, FM Parapat sebenarnya bercita-cita ingin jadi insinyur. Ia ingin melanjutkan sekolah ke Institut Teknologi Bandung, supaya bisa seperti Soekarno yang insinyur. Tetapi pada perjalanannya kemudian ia justru mendaftar jadi Kadet Angkatan Laut, di Pangkalan Angkatan Luat Belawan. “Saya belum pernah melihat laut,” kata dia mengenang, saat-saat dia membaca pengumuman itu dan belum tahu bagaimana caranya untuk sampai di Belawan.
Pilihannya masuk ke Angkatan Laut ternyata tak salah. "Saya tidak pernah menyesal,” kata dia. Kariernya termasuk cemerlang. Di Akademi Angkatan Laut ia bergabung dalam Korps Elektro  (1953-1956) dengan penugasan pertama di KRI Gadjah Mada. Di Angkatan Laut yang sangat ia banggakan itu, ia antara lain pernah menjabat sebagai Asisten Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Armada Kepala Staf AL (Kasal) (1973-1976), Wakil Asisten Perencanaan Armada Kasal (1976-1978), Asisten Perencanaan Armada Kasal (1978-1982), Asisten Perencaan Umum (Asrenum) Kasal (1981-1986) dan pernah pula menjadi Direktur Jenderal Perencanaan Umum dan Anggaran Departemen Pertahanan dan Keamanan (1983-1993).
Cita-citanya menjadi insinyur tersalurkan ketika ia dikirim untuk belajar di US Naval Postgraduate School Monterey California hingga ia meraih gelar doktor dalam Electrical Enginnering (1959-1964). “Di kalangan masyarakat Batak, Parapat juga dikenal sebagai orang Batak pertama mencapai pangkat bintang dua di TNI Angkatan Laut,” kata Kolonel Laut (Pur) TNI, Sabar M. Saragih, tentang perwira yang dikaguminya itu. “Beliau tegas, disiplin, konseptor pertahanan dan anggaran,” kata dia, kepada satuharapan.com.
Namun, di atas semua itu, yang banyak diingat dari dia adalah ketekunan dan kegigihananya memperjuangkan wawasan kebangsaan. Ia sangat  tegas  menolak anasir-anasir sektarianisme dalam bernegara. Parapat yang di masa pensiunnya mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia dan Fakultas Pasca Sarjana UI, sangat rajin menyumbangkan pikiran  mengenai ketahanan nasional dan kesadaran bela negara. Bagi dia, Pancasila dan UU 1945 harus dipertahankan sebagai paham kebangsaan disamping sebagai dasar negara dengan penjabaran dalam undang-undang.
Itu sebabnya,  menjelang akhir Orde Baru, Parapat termasuk yang vokal mengungkapkan kerisauan terhadap kehadiran organisasi cendekiawan yang  memiliki anasir sektarian dan membuat sekat-sekat di masyarakat. “Untuk cendekiawan dan sarjana, kita sudah lama memiliki organisasi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), untuk apa lagi kita perlu ICMI, PIKI dan sebagainya,” kata dia suatu kali.
Parapat termasuk yang sangat kental menyuarakan kekhawatiran akan kehadiran ICMI pada masa akhir Orba, yang ketika itu sangat gencar merasuk ke birokrasi. Sampai-sampai, suatu kali ia nekad mengajukan pertanyaan langsung kepada Wapres kala itu, Sudharmono,  yang tengah berkunjung ke Dephankam. “Untuk seorang menteri, kapan dia memikirkan kepentingan warga negara Islam saja, kapan dia memikirkan kepentingan seluruh  warga negara?”
Parapat berkeyakinan bahwa setiap aparat negara harus memiliki wawasan kebangsaan dengan kadar yang sangat tinggi. Mereka harus “berpegang pada cita rasa kebangsaan yang luhur, yaitu seluruh rakyat harus merasa  senasib sepenanggungan, mempunyai kesempatan hak dan kewajiban yang sama, tanpa membedakan suku, agama, ras, atau pun asal-usul keturunan, sehingga tidak akan pernah bertindak diskriminatif,” tulis Parapat.
***
Farel Mangapul Parapat, pada hari Rabu 6 Januari 2016, menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Premier Jakarta, setelah dirawat sejak 1 Januari 2016. Ia akan dimakamkan pada hari Sabtu, 9 Januari 2016 di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tentang perjalanan hidupnya, dalam biografinya ia mengatakan, “Sekarang saya yakin, Tuhan yang menentukan jalan hidup setiap manusia....karena itulah saya selalu teringat dan berpegang pada ayat suci Alkitab yang saya terima pada waktu per-sidi-an, yang berbunyi: ‘Segala sesuatu akan berakibat baik bagi mereka yang mencintai Dia.’”
Selamat jalan Pak Parapat.
Sumber : http://www.satuharapan.com/read-detail/read/in-memoriam-farel-mangapul-parapat-perwira-nasionalis-yang-lugu
 
IN MEMORIAM RAJA MANGARANAP F.M. PARAPAT
Biografi Laksda (Purn) F.M. Parapat, P,hd.

Salah satu putra terbaik bangsa ini memiliki nama Farel Mangapul Parapat. Putra dari (Alm) Kilian Parapat dan (Alm) Loide. F.M. Parapat dilahirkan di Simarlailai pada tanggal 2 Februari 1933. Beliau menempuh pendidikan sekolah dasar di Sekolah Rakyat (SR) di Simarlailai lalu melanjutkan SMP di Simarlailai. "Karena ga tau harus lanjut SMA dimana, karna waktu itu belum ada SMA disana, jadi opung mengulang lagi setahun karna kecintaan opung terhadap pendidikan." Begitu ucapnya kepada salah satu cucunya. Setelah melanjutkan jenjang SMA Negeri di Balige, beliau di rekomendasi kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) karena bercita-cita menjadi insinyur. Gurunya menyarankan agar F.M. Parapat kuliah disana karena nilai-nilainya yang baik. Tidak heran mendengarnya karena ia berprinsip "kalau bisa dapat 10 kenapa punten dengan nilai 7?" Itulah yang membuatnya semangat sekolah menempuh perjalanan 4KM dari rumah ke sekolah sambil mampir ke pasar menitipkan dagangan ibunya di pasar.
Karena orangtuanya tidak mampu mengirim dan menyekolahkan salah satu putra terbaik kelahiran Tapanuli Utara ini, maka setelah lulus di SMA Negeri di Balige pada tahun 1952, beliau mendaftar di Pangkalan Utama Belawan Medan, karena tidak dipungut biaya. Siapa sangka karirnya cemerlang dan ia dikirim ke Monterey di Negara Bagian California (sekitar 3 jam perjalanan dari San Francisco). Ia menempuh pendidikan di U.S. Naval Postgraduate Monterey California selama 5 tahun. Sungguh prestasi yang membanggakan! Saat itu beliau sudah menikah dengan Ny. Rusti Lukeria Parapat (Br. Harianja). Singkat cerita F.M. Parapat setiap siang pulang ke apartement sewaannya dan makan siang bersama istri tercinta lalu kembali ke kampus. Kegiatan ini rutin dilakukan selama 5 tahun. Ny. R.L. Parapat mengenang, "Dulu, opung sama opung doli suka jalan-jalan keliling negara bagian itu. Soalnya waktu itu opung dikasih ruangan untuk dikarantina, tapi ga dipake sama opung."
US Naval Postgraduate Monterey, CA
http://www.tnial.mil.id/tabid/79/articleType/ArticleView/articleId/1913/Default.aspx
"Ketika kelulusan, istri-istri dari temennya opung pada nanya ke opung 'kok bisa sih suamimu lulus cepat? Padahalkan ini bukan bahasa ibunya'. Opung juga cerita pas dosennya nge-lucu di kelas, smuanya ketawa kecuali opung karna gangerti" kenang R.L. Parapat.
Setelah kembali ke tanah air, beliau kerja di teknik elektro di KRI Gadjah Mada. Singkat cerita beliau diperintah untuk kerja bersama temannya. Tapi ia menolak karna merasa diremehkan. Maka ia bilang "saya kerja sendiri atau saya turun dari kapal ini?!" Sikap tegas sudah terlihat walaupun kepada atasannya. Sempat menduduki jabatan-jabatan tinggi di Republik ini, F.M. Parapat akhirnya pensiun dan mulai mengajar tentang pertahanan negara di Universitas Indonesia, dan Universitas Kristen Indonesia.
Gajah Mada : Flagship & destroyer pertama milik NKRI.

Lalu beliau benar-benar pensiun. Ia memiliki 2 anak yaitu 1 perempuan dan 1 laki-laki. Bernama Todo Farisa Parapat dan Poltak Parapat. Beliau memiliki 5 cucu. Pada tanggal 28 Februari tahun 1999 di Jakarta, lahirlah cucunya yang pertama diberi nama oleh beliau dan istrinya Andreas Hasiholan. 'Andreas' adalah murid Tuhan Yesus, dan 'Hasiholan' adalah bahasa Batak artinya yang disayang. Tahun selanjutnya lahirlah Yohanes Alexander Hamonangan pada tanggal 7 Maret tahun 2000. Dan pada tahun 2001, lahirlah Sarah Natasha Pardamean dan Maria Parapat. Andreas, Yohanes, dan Sarah adalah anak-anak dari Bona Rio Panjaitan dengan Todo Farisa Parapat. Sedangkan Maria dan Yoshua Parapat anak dari putranya yaitu Poltak Parapat.
Beliau mendirikan Yayasan St. Nahanson Parapat. Putra terbaik ini telah mendirikan gedung pertemuan umum St. Nahanson Parapat di Jatiasih, Bekasi dan SMK St. Nahanson Parapat di Sipoholon (jurusan komputer dan otomotif) lihat web http://smkstnahansonparapat.sch.id/ 
(Atas) SMK St. Nahanson Parapat
(Bawah) BPU St. Nahanson Parapat
Kecintaannya terhadap pendidikan tidak berhenti ketika pensiun. Suatu saat opung pernah minta dibelikan laptop yang murah ke opung boru. Karna opung ingin menulis singkatnya. Tapi opung boru malah membelikan macbook air untuk opung doli. Opung langsung meminta saya (Andreas) untuk mengajari 
menggunakan laptop dan mengetik. Pelajaran pertama berada di Plaza Senayan di espressamente. Lalu selanjutnya di Bakerzin Mall Kelapa Gading 3. Tulisan pertamanya berjudul 'NKRI di tahun 2045' ternyata beliau menceritakan keprihatinannya tentang populasi di NKRI yang berpusat di Jawa. Dari masalah itu, saya menarik kesimpulan bahwa opung mendirikan sekolah di bonapasogit untuk anak muda di Sipoholon supaya produktif dan membangun kampung halaman. Karna beliau merasakan sendiri tidak ada perbedaan berarti dari kampungnya sejak ia kecil sampai sekarang. 

Tanggal 1 Januari 2016, setelah melayat kawan semasa kecil, Bas Tobing, yang meninggal pada 31 Desember 2015, beliau kena serangan jantung yang ke-3, ia langsung dilarikan ke RS Premiere Jatinegara. Sempat dirawat 4 hari, pada pagi hari jam 5 beliau kritis di ICU dan berpulang ke Bapa di Sorga. Jam 7.15 dinyatakan telah meninggal dunia. 

                   - F.M. Parapat - 

Andreas :
Saya sedang di sekolah, sedang makan di kantin sambil menunggu waktu shooting short movie untuk acara natal, lalu mendapat telpon dari opung cawang, saya sudah memiliki firasat buruk, dan benar saja mama saya yang menjawab dan ada suara ramai dibelakang. Saat itu jam 3 sore dan saya dikabarkan bahwa opung doli meninggal. 

Jujur i have nothing to say, i was so speechless that time. My food that i bought, i gave to my friend and i left my school and got ready to opung's house. Honestly, believe it or not, i actually didnt wanna cry. But when i arrived, i went straight to living room, and i saw he was lying on the bed. At that time, i cry like a baby, i think i cant face this, i'm not ready. I dont believe that it had happenned. 

Saya sedih bgt, hancur, karna baru beberapa hari yang lalu pergi sama opung, masih sehat, masih ngelucu, masih jalan tegap. Dan sekarang opung udah istirahat untuk selamanya:(

Kalo boleh dibilang my heart broken into pieces. Kenapa? Karna setiap ke mall, gua yang selalu nemenin opung, gua yang ajarin opung dari 0 sampe lancar ngetik pake laptop! Gatahan....

Apalagi pas penutupan peti, gua gasanggup, dada gua sakit, itulah saat terakhir gua liat opung doli. Hari Sabtu, 9 Januari 2016 jam 9.29. Gua nangis kayak bayi, air mata yang keluar udah gaada beda sama air terjun. Selama 16 tahun gua hidup, gapernah gua se sedih ini. Tapi ini rencana Tuhan, gua harus bahagia. Gua nangis untuk menangisi jasadnya dan fisiknya yang gaakan gua liat lagi, gua menangisi karna gua gabakalan pernah ajarin opung doli lagi, nemenin minum kopi, nemenin ke toilet, bukain pintunya, pegangin tongkat waktu ambil uang di atm. Tapi gua seneng, opung udah bersama Tuhan Yesus Kristus di Surga. Kelak kami smua akan berkumpul disana. Amin:)

Oiya btw, opung dikubur di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata Blok AA No. 281. Anyway, sorry kalo ini ga sempurna karna gaada gading yang tak retak dan sorry kalo ada cerita yang ga gua ceritain dan maaf kalo ada kata-kata yang salah.

This is me! 
Andreas Hasiholan Panjaitan
Born in Jakarta, on February 28th 1999
I'm the first son of Bona Rio and Todo Farisa, and I'm the first grandson from F.M. Parapat and R.L. Parapat. 
Sumber : https://beruangkutub28.blogspot.com/2016/01/biografi-laksda-purn-f.html 
PROGRAM LSP (LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI) P

Late post, Maret 2019   SMK ST.Nahanson Parapat Sipoholon mendapatkan undangan dalam .....

TIPS BELAJAR ERA COVID DARI MENTERI

Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar acara bertajuk 'Belajar .....

PELUANG KERJA LULUSAN SMK TKJ (TEKNIK KOMPUTER JARINGAN)

Jurusan yang memiliki peluang kerja lebih besar ketika lulus nantinya selalu menjadi jurusan yang .....

PELUANG KERJA LULUSAN SMK OTOMOTIF (TKRO)

1. Industri Umum Skala Nasional atau Luar Negeri Sudah menjadi hal umum, mereka para lulusan SMK .....